Minggu, 19 Oktober 2014

Pasar Betawi, "Ngumpul" di Malam Hari

Senin (13/10/2014) malam, sebuah rumah di kawasan Kemandoran VII, Gang Madrasah II, Jakarta Barat, diramaikan orang-orang dan pentas kesenian. Sudah sejak selepas isya, warga masyarakat dari berbagai penjuru Jabodetabek berkumpul di kediaman Haji Ridwan Mustofa, salah seorang tokoh Betawi di Jakarta.
Pentas gambang kromong, berupa permainan alat-alat musik, seperti kenong, gendang, dan bonang dalam lima nada yang dipukul, meramaikan malam itu. Orang-orang berkumpul dan duduk lesehan di teras hingga memenuhi batas luar rumah.
Sebagian badan jalan dalam wilayah permukiman warga itu ditutup. Salah satu sisi ruas jalan dipergunakan untuk tempat parkir kendaraan bermotor.
Menjelang malam, permainan musik berangsur dihentikan. Namun, orang-orang masih tetap berkumpul dan saling bertukar obrolan.
Salah satu topik pembahasan yang dibicarakan dengan cukup serius adalah tentang komitmen dan konsistensi para anggota kelompok.
Sebelumnya, mereka membahas perihal rencana menampilkan sejumlah bentuk kesenian di Istana Negara pada 2 November kelak.
Pertemuan lanjutan hingga lepas tengah malam itu dimaksudkan untuk semakin menguatkan dan menyatakan sejumlah rencana kegiatan. Mereka tergabung dalam komunitas Pasar Betawi.
Salah seorang penggeraknya adalah Nurjanah (38), yang pada malam itu hingga Selasa (14/10) dini hari masih berapi-api mengutarakan pendapat dalam rapat. Malam itu, Nurjanah ditemani suaminya, Edi Permana (39), beserta anak mereka.
Nurjanah dan Edi yang di masa mudanya merupakan aktivis mahasiswa tinggal di kawasan Sawangan, Bogor, Jawa Barat. "Ini rumah mertua saya," kata Edi.

Setelah Lebaran
Sudah empat kali Pasar Betawi mengadakan kegiatan kumpul- kumpul seperti itu setelah perayaan Idul Fitri pada akhir Juli lalu.
"Jagakarsa, Manggarai, Cawang, dan Kemandoran," kata Nurjanah menyebutkan lokasi-lokasi pertemuan Pasar Betawi sebelumnya.
Pasar Betawi, kata Nurjanah, merupakan ajang kumpul-kumpul guna membahas dan mengekspresikan apa pun tentang kebudayaan dan kesenian Betawi terutama mereka yang bergelut di akar rumput.
Ini bukan tentang perkumpulan para elite kebudayaan, melainkan sejumlah pelaku langsung. Tidak kurang dari 60 sanggar kesenian Betawi tergabung di dalamnya.
Silaturahim, pendidikan, usaha komersial, dan pementasan merupakan sejumlah fokus kegiatan komunitas tersebut.
Pementasan yang dilakukan, kata Nurjanah, ditargetkan pula bisa menembus sejumlah panggung dengan khalayak beragam. Pusat-pusat perbelanjaan, termasuk Istana Negara, menjadi tempat mereka bakal mempertunjukkan kemampuan dalam berkesenian.
Selain berlatih dan mempraktikkan sejumlah bentuk kesenian, mereka juga kerap memformulasikan usaha bersama.
Misalnya produk cendera mata yang diproduksi salah satu sanggar, dan kemudian bisa didistribusikan melalui sanggar lain.
Usaha-usaha lain juga tidak menutup kemungkinan untuk dikembangkan. Lomba pantun tingkat sekolah dasar, merupakan sayap kegiatan lain yang dilakukan komunitas itu dalam bidang pendidikan.
Dalam perkembangannya, Pasar Betawi melacak jejak-jejak kebudayaan Betawi yang berdiaspora ke kawasan perbatasan DKI Jakarta. Interaksi dengan kebudayaan lain menghasilkan sejumlah bentuk kebudayaan baru.
"Ada kantong-kantong kebudayaan baru (karena) telah berpindah-pindah," kata Edi.
Akar pencak silat

Ridwan Mustofa menambahkan, kegiatan dalam komunitas tersebut tidak terlepas dari interaksi sebelumnya dalam wadah Silaturahmi Maen Pukulan Betawi (SMPB).
Wadah SMPB merupakan kumpulan para pendekar pencak silat dari sekitar 50 perguruan dengan berbagai aliran yang sudah berjalan sekitar empat tahun belakangan.
Seni bela diri khas Betawi, seperti cingkrik, beksi, dan ronce yang diistilahkan sebagai "permainan" atau "mainan", menjadi kekhasan masing-masing aliran tersebut. Sebagian di antaranya menjadi dasar bagi sejumlah gerakan kesenian. Harga batik betawi
Ridwan mengatakan, filosofi utama yang dipegang SMPB adalah kebersamaan. Silaturahim, dan bukan hendak menentukan siapa yang paling memiliki kemampuan.
"Ibaratnya sekadar tepok tangan ama ngglinding, enggak apa-apa, dah," ujar Ridwan. Begitulah, dalam keriangan malam yang makin pekat, mereka terus ngumpul dan mengutarakan pendapat.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Jokowi Akan Buat Keppres Soal Pemakaian Batik

Presiden RI terpilih, Joko Widodo (Jokowi) menekankan agar para pejabat dan menteri di kabinetnya selalu menggunakan batik, terutama dalam rapat. Bahkan, Jokowi mengatakan akan mengeluarkan surat Keputusan Presiden (Keppres) soal pemakaian batik.

"Nanti saya buatkan Keppres. Batik itu dari Aceh sampai Papua itu ada semua, kamu jangan keliru. Kenapa tidak dikeppreskan," kata Jokowi usai meresmikan Pasaraya Batik di Kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (2/10/2014).

"Sama pecinya jangan lupa," tambahnya sambil tersenyum.

Jokowi mengatakan, dirinya akan berupaya untuk memakai batik setiap hari, meski dia sudah terbiasa mengenakan kemeja putihnya.

"Nanti, 2 hari pakai batik Aceh, dua hari pakai batik Padang, 2 hari pakai batik Medan, 2 hari pakai batik Jawa, 2 hari pakai batik Sulawesi," katanya sambil bercanda.

Jokowi juga menegaskan, para menterinya nanti dilarang memakai jas saat rapat kabinet. Hal itu juga untuk memicu pejabat lain dan masyarakat agar menggunakan pakaian batik demi meningkatnya perekonomian Indonesia. Kain batik betawi

"Kalau dalam rapat kabinet dilarang (pakai jas). Gini loh, batik ini adalah industri kreatif yang berbasis budaya, yang mengangkut jutaan pengrajin. Dari Sabang sampai Merauke. Terus setiap hari kita pakai jas, pakai safari, terus kenapa enggak diganti batik? Kalau pas ada tamu diterima dengan batik kan bagus," katanya.

"Saya maunya pakai batik terus, kalau ke lapangan pakai putih. Itu nanti dibuatkan Keppres," tambahnya.